About

STAIN KEDIRI

STAIN KEDIRI
USHULUDDIN

Minggu, 13 Desember 2015

AGAMA BUDDHA DI MYANMAR



A. Pendahuluan
Beribukota Naypyidaw yang diresmikan pada 6 November 2005 oleh pemerintahan junta militer sebagai pengganti ibukota sebelumnya Yangon, negara Myanmar yang dahulu bernama Burma memiliki komposisi penduduk terbesar 89% beragama Buddha dan etnis Burma sebesar 68%.
Karena itu, negara dengan jumlah penduduk 48.798.000 jiwa (Juli 2007) yang memiliki pagoda Swedagon yang menjulang di kota Yangon sebagai identitas nasional Burma dapat dikatakan sebagai negara Buddhis terbesar di Asia Tenggara, berdampingan dengan negeri tetangganya yang juga berpenduduk mayoritas Buddhis seperti Laos, Thailand, China..
Diperkirakan negara yang dikenal juga sebagai negara seribu pagoda ini memiliki puluhan ribu bhiksu/bhikkhu yang mendiami puluhan ribu vihara-vihara pada negara seluas 676.578 km2 yang memikiki perbatasan darat dengan Thailand, China, India, Laos dan berhadapan dengan Samudera Hindia. Para bhiksu/bhikkhu di Myanmar yang belum lama ini pada September 2007 lalu melakukan aksi perlawanan secara damai terhadap junta militer merupakan strata social yang sejak dahulu kala memiliki pengaruh luas dan telah berakar jauh dalam masyarakat Myanmar.


B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah masuknya agama Buddha di Myanmar?
2. Bagaimana perkembangan agama Buddha di Myanmar?
3. Bagaimana konflik di myanmar?

C. Sejarah Masuknya Agama Buddha di Myanmar
1) Masuknya agama Buddha di Myanmar :
a) Agama asli masyarakat Myanmar (Burma) adalah Nat, yaitu kepercayaan terhadap roh.
b)  Etnis Myanmar adalah:
i.  Mon (Khmer)
ii. Pyu (orang Tibet – Burma)
c) Komunitas india berdiam dibelakang pantai Bengal sampai Kalimantan, sedangkan di Myanmar mereka berada di Thaton (Suddhammapura/ Sudhanmawati), Pegu (Ussa/ Hamsavati), Yangon (Ukkala), dan Arakan (Dhannavati) di sepanjang Tenasseri. Komunitas pedagang india di pantai selatan Myanmar yang membawa budaya dan agama Hindu, berhubungan dengan etnis Mon. Dengan demikian mereka terlebih dahulu mengenal agama hindu.
d) Sebelum agama Buddha Theravada telah berkembang Ari Budhisme, yaitu sinkretisme dari agama Buddha Mahayana (Vajrayana), Hindu, dan Nat.
e) Sejarah agama Buddha Myanmar bersumber pada Sasanavamsa, yaitu babab yang ditulis dalam Bahasa Pali oleh Bhikkhu Pannasami.
f) Dalam Sasanavamsa diceritakan kunjungan Buddha ke Myanmar yaitu:
 1. Kunjungan ke Aparanta
Punna, Pedagang Sunaparanta menjadi Bhikkhu (dalam Punnovada Sutta), ketika kembali ke negaranya ia membangun vihara cendana merah untuk Buddha, Punna mengundang Bhikkhu beserta 500 pengikut-Nya dengan menaiki tandu yang dibuat dewa Sakka, tetapi hanya terisi 499 karena satu tandu untuk petapa Saccabandha di gunung Saccabandhadi pusat Myanmar. Dalam perjalanan pulang Buddha diundang raja naga bernama Nammada di sungai Nammada dekat gunung Saccabandha. Beliau meninggalkan jejak kaki (Siripada) yang dipuja oleh etnis Mon dan Pyu. Jejak kaki sempat tidak dikenal pada abad ke-15, sampai ditemukan kembali pada tahun 1638 oleh Raja Thalun dan menjadi tempat ziarah.
            2. Kunjungan ke Arakan
Raja dari Dhannavati bernama Candrasuriya berniat mengunjungi Buddha, karena harus melewati tempat berbahaya, akhirnya Buddha memutuskan untuk mengunjungi Raja. Buddha memberi peninggalan gambar pada logam yang disimpan di candi Mahamuni di Dhannavati. Gambar tersebut pada tahun1784 ketika Raja Bodawpaya menaklukan Arakan, dipindahkan ke Pagoda Arakan di Mandalay.

g) Diyakini bahwa pedagang dari Ukkala bernama Tapussa dan Bhallika bertemu Buddha setelah tujuh minggu setelah pencapaian kebuddhaan-Nya mereka diberi delapan helai rambut Buddha yang kemudian relik rambut tersebut dihormati di Pagoda Swedagon di Yangon, yang dibangun setinggi 27 kaki namun sekarang menjadi 370 kaki
h) Setelah konsili ketiga, Raja Asoka mengirim Bhikkhu Sona dan Uttara ke Suvannabhumi di Thaton dengan mengajarkan Brahmajala Sutta.
i) Pada abad 11 bangsa mramas (Tibet-Dravida) mengembangan agama Buddha Tantrayana, sedangkan di Thaton berkembang agama Buddha yang berdampingan dengan agama Hindu.
j) Pada tahun 1044, Raja Anawrata mempersatukan Mon dan Pyu menjadi Pegan, kemudian mengembangkan Buddhisme Theravada setelah terjalinnya persahabatan antara dirinya dengan Raja Srilanka bernama Vijayabahu.

D. Perkembangan Agama Buddha di Myanmar
Sejarah kehidupan kebhiksuan di Myanmar tak lepas dari negeri Srilanka yang menjadi sumber dari mana pergerakan agama Buddha menyebar ke Asia Tenggara, khususnya agama Buddha bermashab Theravada. Dalam buku Edward Gonze, “A Short History Buddhism,” Allen and Unwin, London-Boston, 1980, terungkap bahwa agama Buddha telah masuk ke Burma sejak abad ke 5 dan abad ke 6, baik agama Buddha Theravada maupun agama Buddha Mahayana.
Sedangkan adanya suatu organisasi yang kuat bagi pejalan kebhikkhuan di Myanmar itu sendiri baru terbentuk pada abad 9, yaitu yang menamakan dirinya “Ari” (dari kata arya yang berarti mulia). Dikabarkan agama Buddha yang ada itu adalah agama Buddha Pala yang berasal dari Bihar, India dan Bengal yang bermashab Mahayana dan juga menyerap kepercayaan setempat. Baru awal periode tahun 1000 agama Buddha di Burma ini berubah karakternya dengan mengambil inspirasi pada Buddha yang berasal dari Srilanka, yang diprakarsai oleh Raja Anawrahta dari Pagan di tahun 1057 yang mendatangkan bhiksu-bhiksu dan kitab suci dari Ceylon, Srilanka.
Sejak itulah kelompok bhiksu Mahayana dan juga Vajrayana memudar pengaruh dan dominasinya, meski keberadaannya tidak lenyap bahkan hidup terus sampai akhir abad 18. Kehidupan kebhikkhuan beralih kepada mashab Theravada yang mendapat perlindungan istana, sehingga tumbuhlah kebudayaan Buddhis dengan peninggalannya yang sangat bagus dan indah.
Pada tahun 1044 Anawratha (Aniruddha) menggantikan tahta di Pagan dan beralih menganut agama Buddha Theravada melalui bhikkhu Dharma-darsi (Arhan). Raja dengan bantuan bhikkhu Arhan serta beberapa bhikkhu dari Thaton memaksakan agama Buddha Theravada untuk semua penduduk negeri. Dalam rangka itu diperlukan banyak kitab-kitab agama Buddha dan raja Aniruddha meminta bantuan Manuha (raja Thaton) untuk memperoleh naskah lengkap kitab suci Tipitaka. Permintaan itu ditolak oleh Manuha yang menyebabkan Aniruddha mengirimkan pasukan serta dapat mengalahkan dan menawan Manuha. Semua bhikkhu dan kitab-kitab agama Buddha serta relik yang ada di Thaton diangkut ke Pagan dengan 32 ekor gajah.
Aniruddha dan para penggantinya merupakan tokoh-tokoh yang menanamkan agama Buddha Theravada di Pagan dan melalui kekuatan politik yang dimilikinya menyebar ke seluruh wilayah Burma. Agama Brahma yang pernah ada di sini lama-kelamaan menjadi pudar.
Aniruddha membangun banyak pagoda dan vihara. hal yang sama juga dilakukan oleh para penggantinya. Aniruddha juga membawa lengkap kitab Tripitaka ke Burma dari Ceylon dan bhikkhu Arhan kemudian menyatukannya dengan naskah-naskah yang ada di Thaton. Kyatnzittha (putera Aniruddha) meneruskan jejak ayahnya dengan vihara Ananda di Pagan.
Kemudian semasa kekuasaan Narapatisithu (1173-1210) banyak vihara dibangun dibawah para sponsor seperti Sulamani, Gawdawpalin juga untuk penulisan kitab suci Pali. Chapata yang juga dikenal sebagai Saddhammajotipala menulis suatu seni karya mengenai tata bahasa Pali, disiplin vinaya dan filsafat seperti: Suttanidesa, sankhepavannana, Abhidhammatthasangha. Sementara pujangga lainnya yang bernama Sariputra menulis karya yang merupakan koleksi pertama mengenai komposisi hukum kesunyataan yang dikenal sebagai Dhammavilasa atau Dhammathat.
Kebudayaan Buddhis yang tumbuh semarak pada masa itu dikabarkan tercermin dengan tumbuhnya 9000 pagoda dan vihara yang memenuhi tanah seluas delapan mil, diantaranya yang paling terkenal adalah Vihara Ananda dari abad ke 11. Dalam Vihara ini terdapat 547 cerita Jataka yang dikisahkan di atas tanda peringatan atau piagam yang dibuat dari lapisan kaca. Hal ini berlangsung selama 3 abad sebelum kekuasaan Pagan itu dihancurkan oleh Bangsa Mongol pada tahun 1287.
Meski, setelah runtuhnya dinasti Pagan ini, dan selama 500 tahun ke depan Burma terbagi-bagi dalam kerajaan-kerajaan yang saling berperang, namun tradisi Theravada tetap berlanjut walau tidak semerbak periode sebelumnya, bahkan raja Dhammaceti dari Pegu di akhir abad 15 memperkenalkan kembali pergantian pimpinan vihara yang sesuai kitab suci dari Ceylon.
Pada tahun 1752, Burma mengalami penyatuan kembali, dan setelah tahun 1852 Sangha memperoleh perlindungan, dan sebuah dewan di Mandalay memperbaiki teks Tipitaka pada tahun 1868-1871 yang kemudian diukir di atas 729 lempengan pualam. Pada tahun 1886 ketika Burma masih memiliki kerajaan merdeka (sebelum dijajah inggris) agama Buddha menempati posisi yang baik. Negeri terkenal dengan perhatian terhadap Tipitaka, khususnya Abhidhamma. Kota Mandalay merupakan pusat pendidikan dan keagamaan Buddha di Burma. Vihara-vihara di Burma banyak menyimpan manuskrik-manuskrik langka. Di Negri ini Abhiddhamma dipelajari oleh hampir semua pemeluk agama Buddha. Seorang tokoh abhidhamma pada awal abad ke-20 bernama Ledi Sayadaw. Dia menuulis “ yamaka” dan Phisolophy of Relation” yang diterbitkan oleh pali teks society pada tahun 1914-1916. Pada waktu itu ada dua tokoh lainnya adalah Abi-Dhaja maha ratta – guru Nyaungyan sayadaw ( 1874-1955), ia seorang bikhu yang telah mencapai tingkat maha tera dan terpilih sebagai mahayaka, yang menulis kitab tidak kurang dari 150 manual agama buddha, beberapa diantaranya; maha samaya sutta, “Brahmanajala sutta” serta sutta-sutta yang lainya. Ada juga tokioh lain misalnya Bhikkhu Mingun Sayadaw (1868-1955) dari Taton yang menulis “Milindhapanha” (1949).
Setelah birma lepas dari inggris dan memperoleh kemerdekaan, pemerintah berusaha untuk membangun kembali Agama Buddha dan melaksanakan studi Budddha Dhammma dan mendirikan suatu lembaga yaitu “ Buddha Sasana Causil”. Selain itu pemerintah Burma juga ingin mendapatkan naskah Tripitaka asli dan bekerjasama dengan para Bhikkhu/kaum terpelajar Agama Budddha dari India, Pakistan, caylan, Tailand, kamboja dan Laos.
Sangha yang merupakan komunitas bhiksu tidaklah asing bagi rakyat Burma. Rakyat disamping masih memiliki kepercayaan leluhurnya yakni para Nat atau “roh” yang diminta menolong mereka juga memiliki kepercayaan tentang cara utama untuk memperoleh kebajikan yaitu dengan membangun pagoda atau vihara. Bisa dimengerti bila Burma memiliki banyak pagoda, dan vihara-vihara selalu berada di pusat-pusat tempat tinggal mereka, dimana vihara-vihara itu juga berfungsi sebagai tempat pendidikan tempat rakyat melek huruf.
Bersama Sangha yang mendapat tempat di hati rakyat, agama Buddha menjadi kekuatan yang memberikan karakteristik peradaban Burma. Sesungguhnya, agama Buddha yang dibabarkan oleh Sang Buddha ini sepanjang sejarahnya telah memicu kehidupan social yang demokratis dan non-materialistis bagi bangsa Burma, disamping membawa keindahan pengetahuan, etika kehidupan yang menekankan kesederhanaan yang semuanya itu merupakan sumber nilai untuk terciptanya perdamaian dan kebahagiaan.
Kejadian penting lainnya dalam agama Buddha di Burma adalah diselenggarakannya pasamuan Sangha (Sanghayana) yang dinyatakan oleh Burma sebagai pasamuan sangha ke-4 sesudah tiga Sanghayana di India dan Sanghayana di Ceylon. Pasamuan tersebut diadakan di kota Mandalay pada tahun 1871 pada masa pemerintahan raja Min-don-min serta dihadiri oleh 2.400 orang bhikkhu dan guru. Sidang dipimpin secara bergantian oleh bhikkhu Jagavibhivamsa, Naeindda-bhidhaya dan Sumangala. Pada pasamuan ini isi kitab Tipitaka Pali dibaca secara dituliskan dan 729 lembar batu pualam.
E. Konflik di Myanmar
Semenjak berkuasanya junta militer, sudah banyak terjadi aksi demonstrasi dari rakyat Myanmar baik itu yang dimotori oleh para aktivis mahasiswa maupun tokoh agama yaitu biksu. Para demonstran mengecam kekuasaan militer di kursi pemerintahan yang seharusnya dijalankan oleh sipil. Aksi demonstrasi ini disikapi oleh pemerintah militer dengan tindak kekerasan dan tidak sedikit memakan korban. Demontrasi terbesar sepanjang sejarah berkuasanya militer di Myanmar terjadi pada 8 Agustus 1988. Demonstrasi ini dikenal dengan generasi 88 yang melibatkan banyak pelajar dan biksu sebagai bentuk perlawanan terhadap Ne Win dan menuntut sistem demokrasi. Perjuangan rakyat Myanmar melalui aksi demostrasi ini berhasil membuat Jenderal Ne Win sebagai pemimpin junta militer mengundurkan diri, meskipun telah mengorbankan sekitar kurang lebih 3.000 orang meninggal akibat tindakan keras dari tentara pemerintah.
Junta militer di Myanmar dapat dikatakan sangat bersifat Rasial. Bagaimana tidak, kudeta yang dilakukan oleh militer didominasi oleh etnis Burma atau Bama yang juga merupakan etnis mayoritas di Myanmar. Itu berarti kekuasaan atas pemerintahan Myanmar dikuasai oleh satu etnis yaitu etnis Burma atau Bama. Hal tersebut pasti akan berdampak pada kebijakan junta militer yang lebih bersifat memihak dan menguntungkan etnis Bama. Kondisi inilah yang memicu terjadinya perlawanan dari rakyat Myanmar terhadap pemerintah militer terutama dari etnis non-Bama yang merasa tertindas dan adanya ketidakadilan.
Selama 46 tahun berkuasanya junta militer di Myanmar, ada beberapa hal menarik terkait kebijakan-kebijakan junta militer terhadap Myanmar. Diantaranya perubahan nama Negara dari Burma menjadi Myanmar dan Pemindahan ibu kota negara ke Naypyidaw.
Seperti yang diketahui oleh semua orang bahwa Burma adalah salah satu negara yang berada dikawasan Asia Tenggara. Namun nama negara Burma tidak lagi terdapat di dalam daftar negara-negara kawasan Asia Tenggara. Terdapat nama lain yang menggantikan nama Burma, yaitu Myanmar. Perubahan nama negara dari Burma menjadi Myanmar dilakukan oleh pemerintahan junta militer dibawah kepemimpinan Jenderal Saw Maung pada tanggal 18 Juni 1989. Perubahan nama negara menjadi Myanmar ditujukan untuk menghilangkan kesan rasial yang melekat pada nama Burma. Berdasarkan data dari CIA, 68% dari total penduduk negara ini adalah etnis Burma atau Bama. Itu berarti nama Burma hanya mewakili etnis Bama dan terkesan negara ini adalah milik etnis Bama, sementara Burma merupakan negara dengan penduduk yang multi etnis, terdapat etnis minoritas lainnya. Maka dari itu perubahan nama tersebut bertujuan agar etnis non-Burma mempunyai rasa menjadi bagian dari negaranya.
Nama negara baru (Myanmar) diikuti dengan ibu kota negara baru yaitu Naypyidaw. Ibu kota negara baru ini bukan perubahan nama dari Yangon menjadi Naypyidaw namun terjadi pemindahan lokasi ibu kota. Pemindahan ibu kota negara ini dilakukan oleh junta militer pada 7 November 2005 ke Naypyidaw yang mempunyai arti “tempat tinggal para raja”. Naypyidaw adalah sebuah kota di distrik Mandalay yang terletak ditengah dari negara ini. Diantara beberapa alasan terkait pemindahan ibu kota negara Myanmar, ada sebuah alasan klasik yaitu pemindahan tersebut dilakukan untuk mengikuti sebuah tradisi Myanmar pada masa dinasti yang gemar memindahkan ibu kota. Namun tentunya pemindahan ibu kota negara tersebut telah menghabiskan biaya yang cukup besar dan berpengaruh terhadap anggaran belanja negara.
Selain dua kebijakan diatas, ada hal lain yang menarik dari Myanmar yaitu nama negara bagian Myanmar yang mewakili nama sebuah etnis. Myanmar adalah sebuah negara federal yang memiliki 7 negara bagian diantaranya negara bagian Chin, Kachin, Kayah, Kayin, Mon, Rakhine dan Shan. Jika melihat nama dari ke-7 negara bagian tersebut maka akan sama dengan nama-nama etnis yang ada di Myanmar seperti etnis Chin, Shan, Karen, Rakhine dan Mon. Hal ini menjadi sebuah keunikan yang dimiliki oleh Myanmar.
Pemerintahan Myanmar memberikan sebuah hak istimewa kepada beberapa etnis mayoritas yang ada di beberapa wilayah Myanmar untuk mendirikan sebuah negara bagian sendiri. Misalnya negara bagian Mon yang didirikan oleh etnis Mon yang juga merupakan etnis mayoritas disana, begitu pula dengan Negara Bagian Chin oleh etnis Chin, Kahcin, Kayah dan Shan. Namun hak istimewa tersebut tidak berlaku bagi etnis Rohingya, dimana etnis ini merupakan etnis mayoritas di negara bagian Rakhine (dulu Arakan) namun hak tersebut diberikan kepada etnis minoritas Rakhin yang beragama Budha dengan jumlah penduduk kurang dari 10%, sehingga negara bagian ini bernama Rakhine bukan Rohang.
Myanmar telah tercatat di dalam sejarah sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang pemerintahannya dikuasai oleh Junta Militer selama 46 tahun. Entah kapan kekuasaan otoriter junta militer di Myanmar akan berakhir dan diganti oleh sebuah kehidupan demokratis untuk menciptakan kehidupan yang layak serta kesejahteraan bagi rakyat Myanmar.  Akan sangat sulit tercipta kehidupan yang demokratis apabila kekuasaan tertinggi masih dikuasai oleh militer.
E. Kesimpulan
1. Sejarah kehidupan kebhiksuan di Myanmar tak lepas dari negeri Srilanka yang menjadi sumber dari mana pergerakan agama Buddha menyebar ke Asia Tenggara, khususnya agama Buddha bermashab Theravada
2. Agama Buddha di Myanmar (juga dikenal sebagai Burma) didominasi oleh tradisi Theravada, dipraktekkan oleh 89% dari penduduk negara tersebut. Theravāda Burma memiliki pengaruh besar pada praktik vipassana modern, baik bagi para praktisi awam di Asia.
3. Semenjak berkuasanya junta militer, sudah banyak terjadi aksi demonstrasi dari rakyat Myanmar baik itu yang dimotori oleh para aktivis mahasiswa maupun tokoh agama yaitu biksu. Para demonstran mengecam kekuasaan militer di kursi pemerintahan yang seharusnya dijalankan oleh sipil. Aksi demonstrasi ini disikapi oleh pemerintah militer dengan tindak kekerasan.
E. Daftar Pustaka
http://id.netlog.com/ksubho/blog/blogid=12686 (diakses pada 4 November 2015)

AGAMA ZOROASTER


PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
                  Agama Adalah adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.[1]
      Iran dan Persia adalah dua nama yang kerap kali digunakan untuk menunjukkan satu wilayah. Sebenarnya, anatara keduanya tedapat sedikit perbedaan. Salah satu rumpun bangsa Arya, yaitu bangsa Media, mendiami wilayah Iran bagian barat. Sementara rumpun bangsa Arya yang lainnya, yaitu bangsa Persia, mendiami bagian selatan wilayah tersebut.baik bangsa Media maupun Persia, keduanya tunduk pada kekuasaan bangsa Arya Assyria. Namun, sejak tahun 1000 SM, bangsa Persia berhasil menaklukkan bangsa Media bahkan menaklukkan Imperium Assyria. Sejak saat itu, wilayah Iran di kenal dengan nama Persia.[2]
1.2.Tujuan
Tujuan penulis membuat makalah berjudul adalah  AGAMA ZOROASTER” :
Ø Memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai bagaimana sejarah dan ajaran-ajaran Agama Zoroaster.
Ø  Sebagai pemenuhan terhadap tugas makalah mingguan yang dibutuhkan sebagai syarat untuk menyelesaikan matakuliah Budhaisme.
Ø  Memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai Agama-Agama Minor kepada kami dan Mahasiswa yang lainnya.
1.3 METODE
     Metode yang digunakan penulis dalam mengumpulkan data penulisan makalah ini adalah metode studi pustaka dari buku referensi yang terkait dan data dari internet.
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
     Peulisan makalah ini terdiri dari 3 bab. Bab pertama yaitu pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan, metode, dan sistematika penulisan. Sedangkan bab kedua yaitu pembahasan yang terdiri dari Sejarah dan Perkembangan Agama Zoroaster, Ajaran dan Praktek Kegamaannya. Bab terakhir yaitu bab penutup yang berisi kesimpulan dari isi makalah.

A.    Sejarah dan Perkembangan Agama Zoroaster


           Agama Zoroaster, di kenal di dunia Barat dengan nama Zoroastrianism karena nabinya dari agama ini adalah Zarathutra. Zarathustra lahir di Sebelah Utara tanah Iran, tepatnya di kota Azarbaijan. Tinggal seorang lelaki bernama Porushop Spitama, dari suku spitama, bersama istrinya Dughdova yang cantik jelita yang ketika itu masih berusia 15 tahun. Isterinya yang belum dijamah suaminya itu melahirkan seorang putera yang diberi nama Zarathustra. Pada saat kelahiran bayi itu kepala kaum majus di tanah Iran bernama Durashan mendadak gemetar ketakutan amat sangat dan beroleh firasat bahwa seorang bayi baru telah lahir kedunia yang kelak akan menghancurkan agama majusi beserta pemujaaan berhala dan akan memusnahkan kaum majus dari permukaan bumi.[3]
           Banyak sekali teori yang mengemukakan tentang tahun-tahun kehidupannya, diantaranya kemungkinan ia hidup pada tahun 660-583 SM[4], tetapi tidak ada yg menjamin bahwa kisaran tahun ini adalah tahun yang tepat. Di lihat dari perkiraan tahun tersebut, tampaknya Agama Zoroaster merupakan salah satu agama wahyu yang tertua yang masih hidup sampai sekarang. Agama ini pernah menjadi agama negara bagi tiga kerajaan besar di Iran yang hidup dan berkembang hampir berkesinambungan sejak abad ke-6 SM sampai abad ke-7 M, serta banyak menguasai daerah Timur Dekat dan Tengah.[5]
           Di wilayah Indo-Iran, anak yang berumur sekitar tujuh tahun sudah mulai memperoleh pelajaran keagamaan kependetaan secara lisan karena belum ada pengetahuan menulis. Tentunya pelajaran tersebut menyangkut tentang cara beribadah, ajaran-ajaran pokok agama, hapalan-hapalan doa dan pujian pujian kepada Tuhan. Sewaktu masih kecil diceritakan, ia sangat cerdas dan tangkas bicara sehingga teman-temannya sangat segan kepadanya. Orang Iran berpendapat bahwa kematangan atau kedewasaan seseorang itu tercapai pada usia 15 tahun, dan pada sekitar usia itu pula lah Zarathustra mulai menjadi pendeta. Menjelang umur 20 tahun ia gemar mengembara kesana kemari serta memberikan bantuan kepada orang yang melarat dan kesusahan. Dan pada usia 20 tahun ia pun dikawainkan oleh ibunya dengan seorang gadis bernama Havivi.
           Pada usia 30 tahun, Zarathustra menerima wahyu yang peratama. Diceritakan bahwa suatu ketika ia sedang berada di suatu perkumpulan untuk merayakan musim semi. Ia pergi saat fajar ke sungai utnuk mengambil air bagi keperluan upacara haoma. Ia menyebrang ke tengah sungai untuk mengambil air dari aliran yang ada di tengah.ketika hendak kembali ke pinggir, dia menemukan dirinya  dalam keadaan kesucian ibadat (ritual),muncul dari unsur yang murni, air, dalam kesegaran fajar musim semi. Ia melihat bayang-bayang. Di tepian sungai dia melihat suatu zat yang berkilauan yang menyebut diri sebagai Vohu Manah (itikad baik), yang kemudian membawanya kehadapan Tuhan Ahura Mazda serta lima bentuk badan yang bersinar. Dihadapan mereka, Zarathustra tidak melihat bayangannnya karena mereka memancarkan cahaya yang terang benderang. Dan saat itulah ia menerima wahyu.[6] Agama yang diajarkan oleh Zarathusthra telah dikenal sebagai agama Zoraster, tetapi sesungguhnya nama yang diberikannya sendiri adalah agama Mazdayasna, kebaktian kepada Mazda, yakni Tuhan Maha Segala Yang Esa, Sejati, dan Maha Mengetahui.[7] Setelah ia menerima wahyu pertamanya,10 tahun pertama ia melakukan penyebaran agamanya itu di kota kelahirannya yaitu Iran Utara, Tetapi dalam masa tersebut hanya seorang saja yang beriman di kota kelahirannya tersebut, orang itu tidak lain adalah saudara sepupunya sendiri, Maidhyoimanha. Ia mengajarkan tentang kodrat Maha Tunggal yang bijaksana yang tak dapat disaksikan dan dilihat dan diraba, dan hal tersebut direspon dengan ejekan dan penghinaan, ia banyak bersabar dan terus memprcayai janji dari Ahura Mazda, hingga pada akhirnya ia memanjatkan permohonan dan kemudian keluar perintah agar ia hijrah dari sana, Akhirnya pada tahun keduabelas kenabiannya, beliau meninggalkan tanah kelahirnya dan mengembara ke Timur, mula-mula ke Seista, dan selanjutnya ke Bactria yang diperintah oleh seorang raja bijaksana, Vishtaspa. Zarathushtra senantiasa menginginkan untuk memperoleh pengikut yang bijak dan berkuasa untuk menunjang missinya.
           Raja Vishtaspa itu, yang dalam literature di Barat dikenal dengan Kings Hystaspes, berasal dari keluarga Hakkham. Seorang cucunya yaitu Cyrus the Great (559-529 SM) berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil diseluruh wilayah Iran dan membangun sebuah Imperium Parsi yang dikenal dengan dinasti Hakkham (600-331 SM), dan dunia Barat mengenalnya dengan dinasti Achaemenids. Ibukotanya yang semula terletak di kota Balkh di pindahkan ke kota Sussa di sebelah timur sungai Tigris, kemudian ke Persepolis (Istakhri).[8]
                        Raja Vishtaspa menerima Zarathushtra dengan ramah-tamah, dan menunjukkan bahwa dirinya condong kepada risalahnya karena berdasarkan pada berdasarkan filsafat Zoroaster dengan pemikirannya tentang Tuhan bahwa inti dari gagasan ketuhanan tidak akan dicapai lantaran adanya perubahan bangsa dan bahasa. Yang berubah-rubah hanya nama Tuhan yang tunggal untuk seluruh alam. Setiap bangsa menyebutnya dengan nama yang diinginkan. Diriwayatkan bahwa Zarathushtra telah melakukan beberapa mukjizat di hadapan Sang Raja dan para Menterinya, serta melakukan diskusi yang lama dengan para cendekiawan di sana. Salah satu mukjizat yang ia tunjukkan yakni, dia mampu membuat sebuah lingkaran dengan tepat tanpa alat, padahal menurut ahli ilmu ukur hali itu tidak mungkin bisa dilakukan. Kemudian, mukjizatlainnya, ia pernah bertemu seorang buta, kemudian dia meminta jenis rumput tertentu untuk diperaskan di kedua mata si buta, dan si buta itu pun bisa melihat.[9] Perlahan tetapi pasti, kebenaran yang dinyatakannya telah mendapat pijakan yang kuat di kalangan raja dan para bangsawannya. Massa rakyat mengikuti kebangkitan para pemimpinnya, dan agama Zoroaster segera tegak sebagai agama Iran. Sukses yang mendadak dari agama yang baru ini memacu jalan ke arah peperangan antara Iran dan Turan. Zarathushtra tidak percaya dengan penggunaan senjata dalam menarik pengikut kepada agamanya. Beliau hanya mengizinkan perang untuk membela diri guna menjaga agama dan para pengikutnya dari kekejaman orang lain.[10]
           Setelah 47 tahun dengan usaha yang tekun menegakkan kebenaran, Nabi Besar Iran ini wafat dalam usia 77 tahun . Beliau hidup dalam kesetiaan yang tak terbagi dan kebaktian kepada Tuhan yang bijaksana dan benar. Beliau adalah seorang yang penuh kesalehan, dan agamanya tidak bernafaskan lain kecuali kasih kepada yang menderita dan cinta kepada kebenaran. Dan konon pada saat serangan itulah Zarathustra meninggal ditikam oleh askar Turania. Zarathustra sewaktu wafatnya meniggalkan 3 istri, 3 puteri, dan 3 putra. Keyakinan tentang Ahura Mazda, Pengakuan keimanan (credo=Syahadat) yang harus diucapakan setiap orang yang beriman dalam agama Zarathustra. Keimanan yang paling pokok dalam agama ini adalah pengakuan terhadap Ahura Mazda, terhadap kodrat yang maha tunggal dan maha bijaksana. Menurut Zarathustra alam semesta ini dikuasai oleh kodrat Maha Bijaksana (Ahura Mazda) yang Maha bijaksana senantiasa berhadapan dengan kodrat angkara murka (angro mainyu). Agar manusia memproleh keselamatan haruslah menundukkan diri sepenuhnya kepada Ahura Mazda.[11]
           Raja-raja dari dinasti Achaemenids adalah penganut agama Zarathustra sampai kepada raja Darius III (363-331 SM). Pada masa inilah imperium parsi itu ditaklukkan oleh Alexander the Great (356-323SM) dari Macedonia dan lalu berlangsung Hellenisasi yang intensif diseluruh wilayah Iran. Setelah raja-raja Achaemenids itu pertumbuhan kekuasaannya sampai pada masa tumbangnya terbagiatas 3 tahap masa, yaitu:
1.      Masa 600-550 sebelum masehi, yaitu dalam mansa 150 tahun merupakan masa pertumbuhan kekuasaan dan pengembangan agama Zarathustra.
2.      Masa 550-486 sebelum masehi, yaitu dalam masa 65 tahun merupakan masa perluasan kekuasaan dan perluasan pengaruh agama Zarathustra.
3.      Masa 486-331 sebelum masehi, yaitu dalam masa 156 tahun merupakan masa sengketa yang terus menerus dengan pihak Grik.
           Di Persia, selain Zoroaster, terdapat pula Madzab keagamaan dan ritual lain, seperti Maniisme[12], penyembah api, dan Madzhab Mazdak. Madzhab Mazdak ini yang menggugurkan hak kepemilikan individu. Penganutnya meyakini kepemilikan bersama, termasuk perempuan dan harta serat menghapus tradisi pernikahan.Ajaran Mazdak pernah dianut dan dijalankan oleh seorang Raja Dinasti Sasanid. Baik Zoroaster,maupun Madzhab-Madzhab keagamaan Persia yang lainnya, ternyata memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi tradisi agama Yahudi, khususnya konsep kehidupan akhirat dan adanya Messiah. Dikatakan, Jemaah Asiniyyah, salah satu sekte Yahudi, sangat terpengaruh kuat oleh ajaran Zoroaster, terutama dalam konsep-konsep dualisme, seperti peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Namun demikian, diantara kelompok-kelompok agama tersebut kelompok yang  paling penting di dunia adalah agama Zoroaster atau Parsi India. Kelompok ini sering dibandingkan dengan kelompok Yahudi.[13]
           Pada tahun 641 M, yaitu pada masa pemerintahan koshru Yesdegird III (634-641 M), kekuasaan Sassanids di tanah Iran ditumbangkan oleh kekuasaan Islam yakni pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (634-644 M). Dan itulah perkembangan terakhir dari agama Zarathustra sepanjang sejarahnya semenjak 12 abad lamanya, lantas terdesak oleh pengaruh agama Islam di tanah Iran.
           Sesudah ditaklukkan Arab di sekitar abad ke-7 M, sebagian besar penduduk Persia lambat laun memeluk agama Islam (dalam beberapa hal dengan kekerasan, walau pada prinsipnya kaum Muslimin punya sikap toleran kepada agama lain). Sekitar abad ke-10, sebagian sisa penganut agama Zoroaster lari dari Iran ke Hormuz, sebuah pulau di teluk Persia. Dari sana mereka atau turunannya pergi ke India tempat mereka mendirikan semacam koloni. Orang Hindu menyebut mereka Parsees karena asal mereka dari Persia. Kini ada sekitar l00.000 lebih kelompok Parsees di India, umumnya tinggal di dekat kota Bombay tempat mereka membentuk suatu kelompok kehidupan masyarakat yang makmur. Zoroastrianisme tak pernah melenyap seluruhnya di Iran; hanya sekitar 20.000 penganut masih ada di negeri itu.[14].
B.     Ajaran-Ajaran Agama Zoroaster


           [15]Kitab suci agama Zoroaster ini di kenal dengan nama Zend Avesta.kitab ini terbagi lagi menjadi tiga bagian, yakni:
1.      Gathas, kitab yang berisi tentang “nyanyian” atau “ode” yang secara umum dan tepat dinisbahkan kepada Zoroaster sendiri;
2.      Yashts atau hymne korban yang ditujukan kepada berbagai macam dewa; dan
3.      Vendidat/ Vindevdat, “aturan melawan syetan”,berupa sebuah risalah yang terutama menyangkut ketidakmurnian ibadah dan prinsip dualisme yang diperkenalkan oleh Zoroasternisme dan diuraikan sangat panjang dalam bidang kehidupan praktis.
                        Gathas memuat ajaran-ajaran yang dikemukakan sendiri oleh Zoroaster. Sayangnya bantuan ilmu bahasa hanya berhasil sebagian dalam menangkap makna teks-teks yang kabur ini. Isi bagian kitab ini bertentangan dengan Yashts, yang merupaka langkah mundur pada paganisme. Dalam Yashts ditemukan suatu konsep politeisme yang mirip dengan konsep yang terdapat dalam kitab suci agama Hindu, Rig-Veda. Konsep Politeisme inilah yang di tentang oleh Zoroaster. Baik dalam Yashts mauoun dalam Rig-Veda dijumpai sejumlah besar dewa dan setengah dewa.
                        [16]Ajaran-Ajaran pokok dalam agama Zoroaster ini yang terdapat dalam kitab-kitabnya mencakup:
a.       Manusia
      Dalam teks yang berjudul “Nasihat Pilihan dari Para Bijak Bestari Zaman Dulu”atau dikenal juga sebagai “Kitab Nasihat Zartusht” ditemukan konsep tentang manusia. Manusia pada asalnya, adalah wujud gaib, dna rohnya, dalam bentuk Fravashi atau Fravahr,ada sebelum jasmaninya. Baik jasad maupun rohnya adalah ciptaan Ohrmazd (Ahura Mazda), dan roh tidak bersifat abadi. Manusia adalah milik Tuhan dan kepada-Nya dia akan kembali.
      Syetan atau Ahriman adalah penentang Tuhan. Dia seperti Tuhan adalah roh gaib murni; dia dan Ohrmazd adalah musuh abadi, cepatatau lambat pertarungan anatar keduanya tidak akan terelakkan. Penciptaan atau makhluk bagi-Nya merupakan suatu kebutuhan bagi pertarungan-Nya melawan syetan, dan manusia berada di garis depan pertempuran ini. Dalam hal ini manusia tidak di paksa Tuhan tetapi karena dia bebas dan sukarela menerima peran ini ketika ditawarkan kepadanya. Di dunia setiap orang bebas memilih baik atau buruk. Jika dia memilih kejelekan berarti dia bertindak tidak alami karena “ayah”nya adalah Ohrmadz.
      Hal diatas sesuai dengan pendapat As-Syahtastani yang mengatakan, “Manusia bertugas untuk senantiasa mebantu kebaikan dan cahaya di tengah pergulatan Ahura Mazda dengan kejahatan dan kegelapan (Ahriman). Hal ini dapat diwujudkan dengan senantiasa melakukan kebaikan, berkahlak mulia,serta menerapkan hukum dan undang-undang dalam kehidupan mereka sehari-hari. Semua itu dilandaskan atas kebebasan untuk memilih. Siapa yang memilih kebaikan dan kebenaran, maka dia akan menuai hasilnyadi kehidupan dan akhirat yang abadi kelak. Adapun orang yang membela kejahatan dan kedustaan, dia pun akan mendapatkan siksa di neraka yang abadi.”
      Bagi agama Zoroaster peran manusia di dunia, yaitu bekerjasama dengan alam serta menjalani kehidupan yang saleh dengan pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik. Di dunia, manusia mempunyai kewajiban untuk hidup berumahtangga dengan mempuyai istri dan mempunyai anak. Semakin banyak manusia adalah semakin baik karena akan semakin mudah untuk mengalahkan Ahriman.
b.      Tuhan dan Penciptaan
      Keyakinan agama Zoroaster meliputi aspek  monoteisme dan paganisme sekaligus. Mulanya, keyakinan Zoroaster hanya mencakup monoteisme saja. Namun, seiring berkembangnya, keyakinan agama ini juga meliputi paganisme. Prof. Dr. Ali Abdul Wahid Wafi, seorang sejarawan muslim kontemporer, mengatakan bahwa zarathustra, meyerukan ajaran monotaisme untuk menyembah Tuhan yang tunggal , pencipta segala sesuatu dan segala alam, baik yang berupa esensi (ruh) maupun materi (maddah).
      Menurut penganut Zoroaster, Dzat Ahura Mazda adalah esensi murni yang suci dari segala bentuk materi, yang tak dapat dilihat oleh pandangan mata dan tidak dapat ditangkap kedzatannya oleh akal manusia. Oleh karena itu Zoroasternisme pun membuat rumusan tentang hakikat ketuhanan Dzat Ahura Mazda dengan dua rumus penting.
      Rumus pertama bersifat transenden (Samawi) yang disimbolkan dengan matahari, dan rumus yang kedua bersifat imanen (Ardhi) yang disimbolkan dengan api. Keduanya adalah unsur yang memancarkan cahaya, menerangi semesta, suci, serta tidak dapat terkontaminasi oleh hal-halyang buruk dan segala bentuk kerusakan. Kepada cahayalah kehidupan semestaraya ini bergantung. Sifat inilah yang paling mendekati untuk digambarkan oleh akal manusia akan sifat pencipta.
      Anggapan sakral dan cara pengikut Zoroaster menyucikan api inilah yang pada akhirnya menjadikan agama tersebut bergeser dari monoteisme ke paganisme. Zoroaster pun berubah menjadi agama panteisme (hulul) dan paganisme. Api sendiri pada akhirnya berubah dari sebatas isyarat menjadi Sang Pencipta itu sendiri, dani pun dirumuskan atasnya.
      Sejatinya, pada tradisi dan ajaran awal Zoroaster, tidak di kenal konsep dua Tuhan. Zoroaster hanya meyakini dua kekuatan besar dalam kehidupan yang senantiasa berlawanan atau berbenturan. Salah satunya terkumpul dalam kekuatan kebaikan, cahaya, kehidupan, kebenaran, dan kemuliaan sementara kekuatan lain terkumpul dalam kejahatan, kegelapan,kematian, dan angkara murka.
Asy-Syahrastani berkata: “ sebenarnya, Zoroaster meyakini bahwa Tuhan itu satu, tunggal, tidak ada sekutu, lawan dan kawan, Pencipta cahay dan kegelapan. Namun para pengikut Zoroaster meninggalkan pandangan tersebut. Mereka meyakini bahwasannya alam raya ini tak lain merupakan jelmaan dari pergulatan abadi antara Ahura Mazda, Dewa Terang, dengan Ahriman, Dewa Kegelapan.kemenangan Ahuran Mazda dalam kehidupan adalah sesuatu yang pasti dan tak terbantahkan.”[17]
c.       Etika
      Sebagian besar ajaran agama Zoroaster adalah menyangkut masalah etika. Dasar pikiran teologisnya mempunyai inti pandangan moralistik tentang kehidupan. Kenyataan kehidupan yang utama dan tidak bisa dihindari adalah kejelekan. Baik adalah baik dan jelek adalah jelek. Menolak adanya prinsip dan kejelekan yang terpisah sama dengan mempertalikan atau menghubungkan kejelekan pada Tuhan. Ini tidak mungkin. Oleh karena itu, kejelekan tentu merupakan sesuatu yang berdiri sendiri yang secara terpisah. Moralitas Zoroaster, diungkapkan dalam tiga kata,yaitu humat, huklit, dan huvarsht, yang artinya pikiran baik,perkataan baik, dan perbuatan baik. Yang utama dari ketiga hal itu adalah perbuatan baik.
      Inti dari ajaran Adhurbadh bin Mahraspand adalah “hiduplah dengan baik dan menjadi orang yang berguna, berilah perhatian kepada sesama, laksanakan kewajiban-kewajiban agama, garap lah tanah, hidup lah  berkeluarga dan didiklah anak-anak sehingga menjadi terpelajar. Ingatlah bahwa hidup di dunia ini adlaah sebuah pendahuluan bagi hidup di hari nanti, atau akhirat, dan roh orang yang meninggal akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang perbuatan-perbuatan yang dikerjakannya di dunia.”
d.      Kematian Dalam Zoroasterianism
      Zoroastrianisme tidak mengizinkan penguburan dan pembakaran tubuh orang yang telah meninggal karena dianggap akan menodai air, udara, bumi dan api. Mereka menyelenggarakan ritus kematian dengan menempatkan mayat di atas Dakhma atau Menara Ketenangan (Tower of Silence). Di sana terdapat pembagian tempat yang jelas bagi kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak. Adapun tahap-tahap yang dilakukan saat upacara kematian adalah sebagai berikut:
1.      Mayat dibiarkan di dalam sebuah ruangan di rumah selama tiga hari sebelum dibawa ke Dakhma, tempat untuk melaksanakan upacara kematian.Sesudah itu, mayat lalu dibawa ke Dakhma atau Menara Ketenangan.
2.      Di sana mayat akan ditelanjangi dan ditidurkan di atas menara yang terbuka dan dibiarkan agar dimakan oleh burung-burung.
3.      Sisa-sisa tulang kemudian dibuang ke dalam sumur
e.       Pengadilan saat Kematian
      Ajaran agama Zoroaster tentang nasib roh setelah mati terlihat sangat jelas. Konsep kitab Avesta memberi dasar ajaran ini dan teks ini telah di salin dengan sedikit bervariasi dalam kitab-kitab Pahlavi. Setiap roh manusia setetlah kehidupan dunia ini akan bergentayangan selama tiga hari di dekat jasad yang sudah menjadi mayat. Pada hari keempat, roh menghadapi pengadilan diatas “Jembatan Pembalasan”, jembatan yag di jaga oleh Dewa Rashu yang bertindak sebagai hakim yang secara sangat adil  menimbang perbuatan baik dan buruk manusia. Jika perbuatan baiknya lebih berat roh tersebut diizinkan langsung menuju surga, tetapi jika perbuatan buruknya lebih besar roh tersebut di tarik dan dimasukkan ke dalam neraka. Apabila perbuatan baik dan buruk seimbang maka roh tersebut di bawa ke suatu tempat yang bernama Hamestagan atau tempat campuran. Tempat ini tidak disebut dalam teks Menok i Khrat, tetapi sering disebut dalam teks-teks lain.dalam tempat ini, roh-roh mengalami perbaikan dengan merasakan penderitaan yang berupa panas dan dingin.
      Neraka dalam agama Zoroaster bukan merupakan tempat penyiksaan abadi. Neraka hanya bersifat sementara dan merupakan tempat penyucian dari noda-noda dosa. Akhir penyucian dosa terjadi pada pengadilan (hisab) terakhir pada akhir zaman. Disini jelas tergambar bahwa roh harus menghadapi dua kali pengadilan, pengadilan pada saat kematian dan pengadilan umum pada hari kiamat ketika jasad manusia di bangkitkan kembali dan disatukan lagi dengan rohnya. Di dalam agama Zoroaster ini, pengadila umum diikuti dengan penyucian,akhir dari noda-noda dosa sehingga semua menjadi suci tanpa dosa. Tidak ada siksaan abadi dan akhirnya, semua manusia masuk surga.
f.       Hari Kebangkitan
Sebagaimana dapat dipahami dari uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, pengadilan roh pada saat kematian hanyalah merupakan suatu pendahuluan bagi pengadilan akhir hari kiamat. Penghitungan terakhir, menurut agama Zoroaster, juga hanya berupa tiga hari “penyucian” di dalam logam yang meleleh dan setelah itu roh-roh terkutuk bangkit dari neraka dan seluruh umat manusia tanpa kecuali berkumpul dalam surga temat mereka semua akan memuji Tuhan selamanya. Tuhan mengutuk makhluk-Nya dengan siksaan abadi karena dosa-dosanya bagaimanapun besarnya. Semua dosa akan dihukum dengan setimpal didalam neraka yang bersifat sementara. Neraka adalah tempat tinggal Ahriman dan Syaitan-syaitan. Tuhan melunakan keadilan dengan ras belas kasihan. Dia tidak memiliki sifat yang kejam dan sama sekali tidak bisa murka.
Konsep surga menurut agama Zoroaster sangar sederhana. Surga adalah suatu keadaan yang kembali kepada kehidupan dunia sebelum Ahriman dengan gila menghenatangnya. Surga adalah seperti tempat reuni keluarga yang sangat besar yang di dalamnya kehidupan dunia yang ideal dipulihkan, suatu kehidupan yang berpusat di sekitar keluarga manusia di mana suami sekali lagi bisa menikmati keintiman istrinya yang sah dan berkumpul kembali bersama anak-anaknya. Kehidupan di surga adalah penyempurnaan alami dari pada kehidupan di dunia dengan kekecualian manusia tidak lagi memiliki nafsu makan dan merupakanm tempat para roh memuji ahura mazda dan amahraspand dengan keras. Di sana seluruh keluarga manusia berkumpul dalam suatu kehidupan abadi dan kenikmatan yang abadi pula.
C.    Praktek Keagamaan dalam Agama Zoroaster


            Zoroaster menganjurkan pengikutnya untuk selalu menyalakan api suci di tungku-tungku api yang terapat disetiap kuil peribadatan. Api tersebut harus selalu menyala dan memancarkan cahaya. Tungku apai itu di urus dan di jaga oleh para pemimpin agama (magi), rohaniawan muda, juga oleh para pendeta kuil. Setiap hari mereka selalu memasukkan kayu cendana ke dalam tungku api sebanyak lima kali, atau kayu lain yang mengeluarkan aroma wewangian khas, juga menaburkan serbuk serbuk dan cairan wewangian sehingga udara di dalam kuil selalu terasa segar dan harum semerbak. Mereka juga merapalkan doa-doan dan melaksanakan ritual keagamaan disekitar api tersebut. Dalam tradisi Zoroasternisme, ketika akan mendirikan sebuah kuil api baru, mereka diharuskan menyalakan api terlebih dahulu pada sembilan buah  lilin atau obor. Nyala api di obor pertama kemudian disalurkan untuk nyala api di obor kedua, dan seterusnya hingga pada obor kesembilan. Pengikut Zoroaster meyakini, api yang menyala pada obor terkahir itulah yang telah sampai pada derajat kesucian api. Dan dari api kesembilan itu mereka menyalakan apipada tungku kuil yang baru tersebut.[18]
            Dalam satu butir teks “beberapa perkataan Adurbadh bin Mahraspand”, ayat 72,di sebutkan “pergilah ke kuil api tiga kali sehari dan bacala doa pada api.” Kelanjutan ayat tersebut mengatakan bahwa siapa yang paling sering pergi ke kuil api dan membaca doa pada api akan menerima banyak barang duniawi dan kesucian.
            Mary Boyce, dalam bukunya Zoroastrians, Their Religious Beliefs and Practice menjelaskan bahwa waktu ibadat orang-orang Iran zaman dahulu ketika matahari terbit, ketika tengah hari, dan ketika matahari terbenam.waktu yang tersebut terakhir nampaknya diperuntukkan bagi roh orang yang telah meninggal dunia. Zoroaster nampaknya memberikan dua tambahan lagi sehingga dia mewajibkan kepada para pengikutnya untuk beribadat lima kali sehari. Tambahan pertama adalah waktu setengah siang seperti waktu Ashar seperti dalam agama Islam, yaitu tengah-tengah antara tengah hari dan waktu matahari terbenam. Bagi agama Zoroaster, selama musim panas doa-doa yang di baca pada tengah hari berfungsi membantu orang yang saleh untuk berfikir tentang kebenaran serta tentang kejayaan kebaikan sekarang dan yang akan datang, sedangkan selama musim dingin adalah merupakan peringatan tahunan akan adanya kekuatan kejahatan yang mengancam dan perlunya bertahan terhadapnya.
            Tambahan baru lainnya adalah waktu tengah malam yang tenggang waktunya sampai saat matahari terbit. Doa ini dipersembahkan bagi Sraosha, Tuhannya doa. Selama waktu itu, ketika kekuatan kegelapan berada pada puncak yang paling kuat dan mencari-cari mangsa, para pengikut Zoroaster harus bangun, mengisi minyak dan dupa pada tungku api dan memperkuat dunia kebaikan dengan doa-doa mereka.
            Bentuk dan isi sembahyang yang di kenal dari praktek yang ada adalah sebagai berikut:
1.      Orang yang hendak melaksanakan sembahyang mempersiapkan diri dengan mencuci wajah, tangan, dan kaki dari kotoran debu kemudian menutup sebagian mukanya.
2.      Melepaskan tali kawat suci dan berdiri dengan tali di pegang dengan kedua tangan dimukanya, tegak lurus dihadapan penciptanya, matanya menatap simbol kebajikan, yakni api
3.      Dia berdoa kepada Ohrmazd (Ahura Mazda), mengutuk Ahriman (sambil memukul-mukulkan ujung kawat dengan penghinaan), memasang tali kawat lagi sambil masih berdoa.
                        Disamping perayaan individu tersebut, para pengikut Zoroaster masih mempunyai  kewajiban bersama yaitu merayakan tujuh macam peringatan hari besar tahunan. Waktu peringatan berbeda-beda, ada yang pertengahan musim semi, ada yangpertengahan musim panas, dan ada yang pertengahan musim dingin.perayaan in dirayakan denga menghadiri upacara agama (sembahyang) di pagi hari dan kemudian berkumpul bersama di dalam kegembiraan dengan pesta makan bersama. Makanan yang dimakan sebelumnya di beri berkah di dalam upacara agama yang dilaksanakan pada pagi hari tersebut. Orang-orang kaya saling bertemu di dalam kesempatan ini yang merupakan waktu iktikad baik umum, perselisihan didamaikan dan persahabatan diperbaharui dan diperkuat. Upacara-upacara khusus bagi kelahiran (massa penandaan), perkawinan dan kematian juga diajarkan dalam agama Zoroaster.[19]
                        Upacara penandaan atau Navjot (secara harfiah berarti Kelahiran Baru) adalah perayaan ketika seorang anak diterima masuk ke agama Majusi, selanjutnya dia diberikan simbolisasi keimanan – baju (sudreh) dan korset (kusti). Upacara ini berlangsung pada saat usia tujuh dan empatbelas tahun. Setelah pemberian ini setiap penganut Zoroster, baik lelaki maupun wanita, memakainya siang dan malam, dan ini menjadi baju yang dikenakan ketika akhir hayatnya.
                        Upacara kedua berkaitan dengan perkawinan. Ini kewajiban yang mengikat pengikut Majusi untuk kawin dan membesarkan anak. Bagian terpenting dari upacara perkawinan tiga kali pengucapan dalam akad perkawinan oleh pendeta resmi, diikuti pemberkatan Tuhan, Amesha Spentas dan Yazatas pada pasangan baru.
                        Perbedaan yang mencolok dari upacara Agama Zoroaster ini berkenaan dengan kematian. Setelah nyawa meninggalkan raganya, maka badan jasmaninya dianggap tidak suci. Ia harus dihancurkan secepat mungkin. Ia tidak boleh disentuh elemen suci-api, bumi, dan air. Jadi tidak dibakar, dikubur, atau tidak juga dihanyutkan kedalam air. Ia dibiarkan dimakan oleh burung bangkai. Mayatnya diletakkan pada suatu tempat yang disebut Menara Kesunyian yang menghadap matahari. Puncak menara dibiarkan terbuka untuk memberi kebebasan burung-burung memakannya. Kejadian ini cepat berlangsung sekitar setengah jam, dan kerangka mayat memutih dibawah sinar matahari dan udara dalam waktu beberapa hari. Ini kemudian dikumpulkan dan disimpan dalam terowongan di pusat menara, dan disana mereka remuk menjadi debu. Kebiasaan menghancurkan mayat ini tidak pernah terjadi pada saat Zarathushtra atau pun pada awal masa Achaemenid. Herodotus mengacu kebiasaan penguburan diantara bangsa Persia, dan kuburan Cyrus masih ada sampai sekarang. Menara Kesunyian (Dokhmas) datang sebagai hasil pengaruh Magi, pendeta dari Medes. Hal dipertahankan oleh pengikut Zoroaster dengan alasan agama maupun sanitasi.[20]
D.    Aliran Agama Zoroaster


            Aliran Agama Agama Zoroaster diantaranya:
A.    Aliran Manu
Diantara ajaran yang diajarkan oleh aliran ini diantaranya:
a.      Tentang baik dan buruk
           Menurut ajaran manu ini bahwa segala kehidupan ini adalah kebaikan, karena akhirnya Tuhanlah yang akan menang atas roh kejahatan; oleh karenanya manusia hendaknya membantu Tuhan mengalahkan roh jahat dengan melakukan segala kebaikan.
b.      Anjuran menghentikan perkawinan
           Selain itu menurut mereka pertempuran antara kebenaran dan kejelekan akan terus berlangsung selama manusia terus berkembang. Oleh karena itu menurut mereka agar semua kejahatan dan kejelekan cepat berakhir maka manusia harus menghentikan perkembang biakanya dengan kata lain tidak menikah agar tidak memiliki keturunan.
c.       Zuhud
Menurut ajaran ini pula, manusia harus menjauhi segala kesenangan dunia. Termasuk melarang menikah, menyembelih binatang dan makan daging.
d.      ‘Ibadat
Aliran Manu mengajarkan peribadatan yaitu sembahyang dan puasa, sebelum sembahyang mereka mengusap anggota badan dengan air, kemudian menghadap matahari, lalu bersujud. Dalam tiap kali sembahyang ada dua belas kali bersujud; pada tiap sujud dilakukan doa; mereka berpuasa 7 hari dalam sebulan.
B.     Madzdak
      Aliran ini ajarannya mirip dengan ajaran Majusi kuno yakni meyakini adanya dua tuhan, yaitu tuhan baik dan tuhan keburukan.
Selain itu ajaran yang paling terpenting dari aliran ini adalah ajaran yang mirip dengan sosialisme yang menyatakan bahwa manusia harus sama derajatnya. Yakni tidak memiliki stara social. Dan menurut mereka penyebab utama dari kejahatan dan peperangan adalah wanita dan harta, yang menyebabkan pengikut aliran ini membuat kekacauan di Naishaburi. Karena mereka memaksa orang-orang hartawan untuk menyerahkan harta mereka dan menyerahkan wanita agar tidak terjadi kekacauan atau peperangan.
a.      Tsanwiyah
            Diantara ajarannya selain mengakui dua tuhan, mereka juga mengajarkan untuk menyembah api, selain mereka juga menyembah berhala.
b.      Disahniyah
            Dishaniyah adalah ajaran Majusi yang lahir di luar persi. Yang didiraikan oleh bangsa Siryani (Sirya) yang bernama Bardaishan datau ibnu Dishan yang wafat pada tahun 222 M. ajarannya mirip dengan ajaran Manu yang menyatukan dua ajaran yakni Nasrani dan Majusi. Hanya saja perbedaanya adalah menurut mereka bahwa Isa Al Masih merupakan Allah yang diserupakan dalam bentuk manusia yang diutus untuk manusia. Selain itu ajarannya juga yang berbeda dengan yang lainnya yaitu mereka tidak mempercayai adaanya hari akherat. Sehingga menyebabkan aliran ini yang sangat berbeda dengan yang lainnya.
C.    Zindiq
      Zindiq adalah sebuah aliran Majusi yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Yakni agama Majusiah yang Atheis yakni tidak percaya akan adanya Tuhan. Menurut mereka bahwa alam raya ini terjadi dengan sendirinya, dan tidak akan berakhir, kekal selama-lamanya, dan zaman yang beredar ini akan terus berputar tiada akan berakhir.
E.     Sekte-sekte dalam Zoroastrianisme[21]


Terbaginya Zoroastrisme ke dalam beberapa kelompok bukan disebabkan karena perbedaan pemahaman teologi. Pembagian sekte-sekte ini karena waktu perayaan Tahun Baru yang berbeda-beda. Terdapat tiga sekte dalam Zoroastrianisme.
1.      Kelompok Shenshahi yang merayakan Tahun Baru pada musim gugur sekitar bulan Agustus atau September
2.      Kelompok Qadimi yang merayakan Tahun Baru pada musim panas, sekitar bulan Juli atau Agustus
3.      Kelompok Fasli yang merayakan Tahun Baru pada musim semi yaitu setiap tanggal 21 Maret.
F.     Pengaruh Agama Yahudi Terhadap Agama Abrahamik (Yahudi, Islam, Kristen)


Perlu diakui bahwa dalam interaksi sosial budaya, akan terjadi pengambilan ide-ide antar kaum/bangsa. Termasuk dalam urusan agama / kepercayaan. Zoroastrianisme adalah sebuah agama tua yang mempunyai banyak pengaruh dalam peradaban umat manusia di kemudian hari.
Hampir semua ahli sejarah dunia sepakat bahwa ide ajaran yang diusung agama Abrahamik (Yudaisme, Kristen & Islam),  berasal dari Zoroastrianisme. Meski khusus untuk Yudaisme, ada beberapa ahli sejarah yang masih memperdebatkan hal ini.  Namun,gaya bahasa dan penulisan manuskrip Zoroastrian cenderung menunjukkan bahwa agama ini jauh lebih tua dari Yudaisme.

1.      Zoroasternisme, Yudaisme, Kristen

      [22]Widengren menyatakan: Kepentingan sejarah agama-agama Iran  ada pada peran besar yang mereka mainkan dalam perkembangan iran  dan dalam kuatnya pengaruh agama tipe Iran yang ada di Barat, khususnya pada agama Yahudi setelah masa pembuangan; pada agama-agama misterius Hellenistik seperti Mithraisme; Gnosticisme; dan Islam, dimana gagasan-gagasan iran ditemukan, baik dalam Sekte Syiah, sekte- sekte utama abad pertengahan dan pada agama (aliran) islam lain serta eskatologi populer lainnya. Widengren  juga menunjukkan pengaruh Zoroastrianisme pada Perjanjian Lama selama pembuangan Babilon pada Yahudi dalam karya Die Religionen Irans (1965).
      Morton Smith mungkin yang pertama menunjukkan kemiripan antara Yesaya 40-48 dengan himne Zoroastrianisme yang dikenal sebagai Gatha, khususnya Gatha 44.3-5: gagasan bahwa Tuhan menciptakan terang dan gelap ada di keduanya.

a.      Konsep Tuhan dan Wahyu

      Ahura Mazda (juga disebut Ohrmazd, Hourmazd, Hormazd, Aramazd and Azzandara) adalah Tuhan dari peradaban Persia kuno.  Ia dideskripsikan sebagai yang Maha Ada, Maha Kuasa dan Abadi, memiliki Kekuasaan dan Daya Cipta Tinggi.  Tuhan ini mempunyai perantara untuk menyampaikan pesan. Ia disebut Spenta Mainyu (Roh Suci) dan mengatur jagat raya lewat para malaikat. Tapi  Kekuasaan Tuhan, dihalangi oleh musuhnya, Ahriman, mirip dengan Setan, yang akan dihancurkan pada akhir dunia.
           Disini  ada  kemiripan dalam ajaran eskatologinya, doktrin dunia yang melakukan  regenerasi, kerajaan sempurna,  kedatangan penyelamat/messiah, kebangkitan orang mati dan hidup selama-lamanya. Ahura Mazda menurunkan wahyu dan perintahnya pada Zoroaster digunung tempat pertemuan suci;  YHWH  melakukan pertemuan yg mirip yaitu dengan Musa di gunung Sinai

b.      Konsep Penyucian
     Aturan penyucian Zoroastrian terutama  praktek membuang kekotoran (yg menyebabkan kenajisan) karena kontak dengan mayat atau materi kotor lain  ada dalam Avestan Vendidad yg hampir mirip dengan aturan kitab Imamat.
c.       Masa Penciptaan
        Enam hari  penciptaan dalam Kitab Kejadian mirip dengan  enam  perioda penciptaan yang dituliskan dalam ayat-ayat Zoroastrian.
d.      Adam & Hawa
       Dalam agama abrahamik, umat manusia berasal dari Adam dan Hawa. Sama halnya dengan Zoroastrianisme. Mashya (lelaki) serta Mashyana (perempuan) adalah Adam dan Hawa versi agama asli Persia ini.
e.       Kisah Air Bah
       Kisah banjir bandang dalam agama Abrahamik, dideskripsikan telah menghancurkan seluruh umat manusia kecuali sekelompok orang saleh beserta keluarganya; dalam Avesta (kumpulan teks suci Zoroastrianisme),  sebuah musim dingin memusnahkan populasi bumi kecuali keluarga Yima  di Vara. Dalam kedua kisah tersebut, bumi diisi  oleh orang-orang baru dengan sepasang makhluk terbaik utk tiap jenis, dan lalu  bumi terbagi menjadi tiga kerajaan. Tiga  anak dari penerus  Yima, Thraetaona: Airya, Sairima dan Tura menjadi pewaris dari Persia.
Ini mirip Shem,  Ham dan Japhet-nya versi Semit. Yudaisme dengan kuat dipengaruhi oleh Zoroastrianisme jika  dipandang dari  sudut ilmu angelologi dan demonolog, dan mungkin juga dalam doktrin kebangkitannya.
2.      Zoroastrianisme & Islam
      [23]Islam jelas terpengaruh oleh ajaran Yudaisme dan Kristen. Beberapa kemiripan Yudaisme dan Kristen terhadap Zoroastrianisme di atas juga ada dalam ajaran Islam.

a.       Tentang Mengaji
             Konsep pembacaan ayat- ayat Quran sangat mirip dengan kepercayaan Persia yang juga suka membacakan ayat-ayat dari Avestan Vendidad. Mereka sama-sama yakin dengan membacakan Kitab Suci akan membantu meringankan tugas manusia dari segala kekurangan yang didapatkan di bumi; ini penting selain bagi negara juga bagi keselamatan jiwa  masing-masing individu. Baik  muslim maupun Zoroastrian suka membaca kitab-kitab mereka sampai berhari-hari setelah kematian salah seorang keluarga.
b.      Tentang Mizan (Timbangan) 
              Doktrin Islam mengenai Mizan atau timbangan (Surah 21.47), yaitu timbangan yang dipakai untuk menimbang perbuatan semua  manusia, jelas berasal dari Persia. Dalam konsep ‘timbangan’ ini, umat Islam diperhitungkan nilai dari perbuatan baik dan jahatnya, seperti praktik timbangan yang sebenarnya. Nabi pernah berkata: Siapapun yang mengucapkan doa diatas tandu jenazah mendapatkan satu kirat tapi yang hadir pada saat jenazah dikebumikan mendapat dua kirat yang mana beratnya sama dengan berat gunung Chod. Sholat berjamaah punya nilai dua puluh limakali lebih banyak dari sholat individu. Dan lain sebagainya.
          Menurut ajaran Islam, pada hari Kiamat, malaikat Jibril akan memegang timbangan ini,  sebelah menggantung diatas surga dan yang lainnya diatas neraka. Mirip dalam Parsisme, ketika hari kiamat dua malaikat akan berdiri pada jembatan penghubung surga dan neraka, memeriksa setiap orang yang lewat. Satu malaikat yg  mewakili Kemurahan Hati Tuhan, memegang timbangan ditangannya utk menimbang semua perbuatan baik orang ini,  jika perbuatan baiknya lebih banyak dia akan dilewatkan ke surga; sebaliknya malaikat kedua mewakili keadilan Tuhan, menimbang perbuatan jahat dan akan melempar mereka ke neraka.
c.       Tentang Shalat
        Sholat lima waktu muslim juga mirip dengan agama asli Persia ini. Muhammad sendiri, mulanya menetapkan dua sholat saja. Lalu, seperti ditulis dalam Quran, sholat ketiga ditambahkan, menjadi  sholat subuh, sholat magrib dan sholat ashar, yang berhubungan dengan tradisi Yahudi Shakharith, Minkah dan Arbith. 
      Terjadinya interaksi dengan kaum Zoroastrian tentu memberikan pengaruh. Semangat religius kaum Zoroastrian dikenal sangat tinggi. Ini kemudian berujung pada penetapan shalat lima waktu sebagai standar tingkat religiusitas muslim. Hal ini sama benar dengan kebiasaan Gahs (sholat)-nya orang Persia.

DAFTAR PUSTAKA
Ø  Abdullah al-Maghlouth, bin Sami, Atlas Agama-Agama, Almahira, Jakarta: 2010
Ø  Ali, H. A. Mukti, Agama-Agama Dunia,IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarya: 1988
Ø  Aziz Us-Samad, Ulfat, PDF. Agama Besar Dunia, Peshawar:1975


[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI)
[2] Sami Abdullah al-Maghlouth, Atlas Agama-Agama, (Jakarta: Almahira, 2010), hal. 46
[4] Ibid
[5] H. A. Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988), hal. 269
[6] H. A. Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988), hal. 270
[7] PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar Dunia,(Peshawar, 1975), hal. 77
[9] Sami Abdullah al-Maghlouth, Atlas Agama-Agama, (Jakarta: Almahira, 2010), hal. 47
[10] PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar Dunia,(Peshawar, 1975), hal. 76
[12] Maniisme atau Manikheisme adalah sebuah aliran kepercayaandualistik yang didasarkan pada ajaran-ajaran Mani. Tokoh utama aliran ini adalah Manichaeus.
[13] Sami Abdullah al-Maghlouth, Atlas Agama-Agama, (Jakarta: Almahira, 2010), hal. 471
[15] H. A. Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988), hal. 270
[16] Ibid, hal. 271-291
[17] Sami Abdullah al-Maghlouth, Atlas Agama-Agama, (Jakarta: Almahira, 2010), hal.470
[18] Ibid, hal. 496
[19] H. A. Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988), hal. 287
[20] PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar Dunia,(Peshawar, 1975), hal. 91
[23] Ibid